Friday, 1 April 2016

Love Ya! // 1

Cast :
Tacita
Rendra
Jessica
Damian
 Aira
Airo
Dean
Ratih ( Adik Rendra)
 Kakek Abdinegara
Sulis ( Ibu Rendra)
Hendra ( Ayah Rendra)
Mbak Santi (Manager Rendra)
Lian (Teman Tacita)






“Jika aku boleh memilih aku ingin terlahir dari keluarga yang sederhana, sehingga aku tidak menyakitimu “

Aku duduk berdiam diri sambil menatap layar laptopku.Setiap pemberitaan tentang dirinya aku mengetahuinya.Semua majalah, infotaiment, dan segalanya tertuju pada dirinya.Aku menyandarkan diriku di kursi kebesaranku, sambil menghela nafas panjang.
Sudah 5 tahun dan semuanya belum berubah.
Aku tersenyum pedih saat melihat senyuman yang terpancar dari sosok yang kini berada di layar datar laptopku.
Semuanya sudah berlalu, Ta.Semuanya sudah berakhir.
Meskipun aku jauh dari dirinya, tapi rasa yang aku miliki selalu terpaut untuknya.Aku mungkin tidak mampu berkata apapun.Semua hanya penyesalan yang selalu silih berganti.
Sudah lima tahun, waktu yang banyak terbuang sia-sia. Tanpa mengerti takdir akan membawa diriku kemana. Apakah setelahnya semua akan berjalan baik-baik saja? Sama seperti hatiku, ketika kau memiliki segalanya semua akan menjadi terasa hampa. Apalagi setelah kau melakukan kesalahan yang menurutmu itu semua kesalahan adalah sumber darimu.
Move on, Ta. Move on. Lupakan dia! Dia sudah melupakanmu.Bahkan sudah lama sejak kejadian itu.
Dan aku adalah orang yang pantas mendapatkan hukuman dari dirinya. Aku akan selalu menahan seluruhnya saat aku kembali.
Tok! Tok!
Pintu ruanganku terbuka melihat Aera yang merupakan sekertarisku berdiri di sana. Ia berjalan mendekatiku.
“Sudah kuduga kau akan menjadi lemah lagi” helaan nafas keluar dari bibirnya.
Aku hanya diam, tanpa mengatakan apapun.Aera adalah satu-satunya teman yang bisa membuatku menjadi diri sendiri.Dia adalah sekertaris sekaligus merangkap menjadi sahabatku.Aera selalu mengerti diriku. Tidak ada yang lain.
“Eum, kau benar” aku hanya menganggukkan kepalaku sambil menatapnya.
“Kita harus pulang, Ta.Pesawat pribadimu sudah menunggu” aku berdiri dan menganggukkan kepalaku.

Semuanya sudah berbeda.Kini kau hanya berjalan sendiri tanpa orang yang berdiri disampingmu dan menggenggam tanganmu.

****
Tacita Anindya Ghassani Abdinegara.
Itulah namaku, merupakan cucu perempuan tunggal dari keturunan Abdinegara yang sukses membangun kerajaan dalam dunia bisnis hiburan, kuliner, otomotif, kesehatan dan teknologi.
Aku adalah anak ke tiga dari empat bersaudara.Seperti yang aku katakan aku adalah cucu satu-satunya dari keturunan Abdinegara.Kakek selalu memanjakanku, mungkin Kakek selalu menginginkan anak perempuan dalam keluarganya.
Ayahku merupakan anak tunggal dari keluarga Abdinegara.Sehingga Kakek selalu memimpikan memiliki cucu perempuan.
Kakek selalu memberikan sesuatu yang aku butuhkan, segalanya selalu ada di rumah kami.Terkadang aku hanya memutarkan bola mataku saat Kakek dengan overprotective terhadap diriku.
Kemanapun dan apapun yang aku lakukan aku akan dikawal oleh beberapa orang bodyguard suruhan dari Kakek.
Kakek memang memiliki kekuasaan yang selalu membuatku susah bernafas. Aku tidak bisa melakukan apapun yang aku mau, semua sudah disusun oleh dirinya.Termasuk kehidupanku. Tanpa ia tahu dari sikapnya aku yang terluka.
Aku memiliki Kakak tertua yang bernama Dean Mahala Ghassavani Abdinegara.Dia adalah Kakak yang workaholic segala sesuatunya harus sempurna. Diumurnya yang ke 32 tahun ia belum menikah, karena terlalu sibuk dengan dunianya sendiri.
Lalu Airo Heidi Ghassavani Abdinegara adalah kakak keduaku, ia memiliki kepribadian yang berbeda dari kakak pertamaku. Ia pribadi yang pendiam namun selalu mengerti diriku. Ia mengetahui yang aku suka dan tidak aku suka. Karena aku dan dia berbeda usia hanya 2 tahun saja.
Yang terakhir Damian Tammy Ghassavani Abdinegara adalah adikku.Dia jauh lebih berbeda dari kedua kakakku, dia memiliki kepribadian yang bebas. Bahkan sekarang, diusianya yang menginjak usia 24 tahun Damian mampu bebas dari sikap overprotective yang Kakek miliki.
Jika Kakek sudah menguhubungiku itu artinya Damian membuat suatu kesalahan yang fatal.Ia akan menuruti segalanya jika aku yang meminta. Mungkin karena ia menganggap aku sebagai Kakak sekaligus ibu untuknya. Eum, Kami berempat hanya memiliki Kakek sebagai orang tua kami.
Ayahku meninggal karena kecelakaan 10 tahun yang lalu, sementara ibu kami meninggal pasca melahirkan Damian.Kami berempat selalu bahu membahu untuk memberikan curahan kasih sayang pada adik kami.
Sekarang umurku sudah menginjak 27 tahun, aku selalu mengurus kebutuhan adikku yang terkadang menurutku selalu tidak wajar.Aku dan Damian tinggal bersama.Aku menjadi Kakak yang baik untuk adikku satu-satunya itu.Aku selalu mengenal karakter Damian.Ia adalah tipe orang yang tidak mau bertele-tele dalam segala hal. Namun, terkadang permintaannya membuatku sebagai seorang kakak perempuan menjadi frustasi
Bayangkan ketika teman-temannya mengajak dirinya berpesta sampai tengah malam dan ia tidak pulang ke rumah. Aku menunggunya hingga menjelang pagi. Ketika ia pulang aku menangis di hadapannya. Aku tidak mau adikku bergaul dengan bebas di London.\
Bukan aku tidak mau Damian memiliki teman banyak.Tapi aku sebagai kakak harus mengontrol adikku.Dia adalah adikku satu-satunya yang harus aku jaga.
Sejak saat itu Damian selalu menurutiku, sampai terkadang ia mengatakan jika aku adalah orang kuno. Tapi Damian selalu menuruti permintaanku dan menghormatiku sebagai seorang Kakak.
Kedua Kakakku terkadang sesekali menjenguk kami.Jika sudah kami berkumpul termasuk dengan Kakek, dunia serasa milik kami berlima.Meskipun kami berempat sering berdebat dan membuat Kakek pusing tapi Aku selalu menyayangi ketiga saudaraku.
Aku selalu tersenyum, ketika Kakek memberiku semua perintah untuk mengurus Damian dan kedua Kakakku. Karena mengurus mereka bertiga lebih susah dan itu butuh perdebatan yang hebat. Aku bisa saja membantahnya tapi semua aku urungkan niatku. Karena aku tahu, ia pasti juga sangat lelah mengurus kami.
Dan saat itu aku melupakan semua masalah yang pernah terjadi dalam hidupku. Demi mereka.
Hal itu menyakitkan, sungguh.Tapi aku menyimpannya. Agar kau selalu bahagia!

****
Tepatnya hari ini aku kembali menginjakkan kakiku di Indonesia. Setelah 5 Tahun berlalu, dan aku akan kembali mengingat semua kenangan yang pernah terjadi.
Semuanya terasa menyakitkan ketika aku mengingat hal itu.Aku juga masih bermimpi buruk.Mimpi yang tidak bisa aku hapus.Mimpi yang membuat aku semakin merasa bersalah.Mimpi yang seakan menelankan kebahagiaanku.
Benar.Mungkin aku selamanya tidak bisa bahagia.Semuanya berawal dari diriku.Seharusnya aku bisa mempertahankannya.
“Kita sudah sampai” Aera memegang bahuku.Aku mengangguk dan bangkit dari dudukku.
Beberapa bodyguard menunggu diluar, mereka memberikan hormat kepadaku.Aku hanya tersenyum kecil, menyembunyikan keraguaanku.
Saat seseorang menggenggam tanganku.Aku menoleh, aku melihat adikku yang tersenyum padaku.Ia menganggukkan kepalanya. Aku kembali menemukan percaya diriku.Aku melangkah menuju mobil yang sudah disediakan.
“Jakarta.”
Saat itu aku takut, takut akan bertemu dengamu kembali.

****
Aku melihat dimana-mana dirinya.Seluruh iklan yang terpampang pada saat mobil yang aku tumpangi berjalan.Rasanya sungguh sesak, aku ingin berteriak agar perasaanku tenang.Tidak ada yang berubah dari Jakarta masih tetap yang sama. Mungkin yang bedanya adalah sekarang sudah tersusun dengan rapi.
Aku kembali menatap iklan yang ada di dekat lampu merah. Aku memaikan jariku saat wajah itu ada di sana. Kamu tidak boleh mengingat dia lagi, Ta.Batinku yang terus saja memberontak.Mungkin benar aku tidak seratus persen bisa melupakannya.
“Kau baik-baik saja, Kak ?”Damian menggenggam tanganku.Aku hanya mengangguk.
“Tidak apa-apa jika kau ingin menangis.Aku tahu kau merindukannya, ehm” aku hanya menyandarkan kepalaku ke kursi penumpang.
“Seharusnya kau sudah melupakannya”lirih Damian.
“Aku merasa bersalah”lirihku.“Aku sudah membohonginya” lanjutku.
“Itu bukan salahmu, kau tahu ada pepatah yang mengatakan manusia itu harus berbuat salah terlebih dahulu untuk bisa menyadari kesalahannya” Damian mulai menggenggam tanganku.
“Jika aku tidak pergi membawaku lima tahun yang lalu pasti kau semakin terluka” Damian memelukku dari samping.“Aku menyayangimu, aku tidak mau kau merasa tersakiti.Aku mohon” Aku mengelus tangan Damian yang sudah berada di pinggangku.Aku hanya menganggukkan kepalaku.
“Apa aku bisa bertahan, Dami?” tanyaku pada adikku.
“Tentu saja, buktinya kau bisa melewati masa-masa menyulitkan itu” ujarnya yang masih memelukku.
Ya, semua tidak akan berhasil jika tidak berusaha

****
Mereka berdiri teratur saat mobil kami sampai di semua gedung yang menjulang tinggi.Ada rapat dengan beberapa pemegang saham yang harus aku selesaikan hari ini sebelum aku pulang ke rumah.Seharusnya aku beristirahat, aku baru saja melakukan perjalanan yang cukup jauh. Namun, pekerjaan ini harus aku selesaikan mengingat Kak Dean tidak bisa datang ke perusahaan yang ada di Indonesia. Karena ia terlalu sibuk mengurus perusahaan yang ada di Singapura. Akhirnya, ia menyuruhku untuk menyelesaikannya.
Seharusnya Perusahaan hiburan ini dipegang oleh Damian, tapi bocah itu tidak mau karena ia mengatakan tidak memiliki bakan mengurusi para artis dan sebagainya. Itu hanya alasan dirinya.
Yah, Kami berempat sudah memiliki bidang masing masing di Haxle Group yang merupakan perusahaan besar. Kak Dean memegang perusahaan hiburan, Kak Airo memegang perusahaan Teknologi, Damian memegang perusahaan Kuliner sementara aku memegang Rumah sakit Kasih. Tapi terkadang saat kami tidak bisa untuk menangani, kami akan melakukan diskusi kecil sehingga mendapatkan solusi yang tepat.
“Kak, aku pulang dulu yah?Nanti aku jemput.Semangat!” seru Damian membuatku memutar bola mata.
“Seharusnya kau yang mengurus hal ini”gerutuku.
“Hahahahahah….” Dia hanya tertawa melihatku menggerutu.
Aku keluar dari dalam mobil. Pandanganku lurus ke depan, aku berjalan melewati para pengawal serta beberapa pemegang saham yang memberikanku hormat. Dan saat ini aku berdiri di Kantor Kak Dean.Haxle Grup merupakan perusahaan yang bergerak di bidang Advertising dan juga sebuah agency yang menaungi aktris dan juga aktor.
Gedung yang minimalis, semua terbuat dari kaca. Ada semua taman di dalam gedung itu. Di ujung sebelah kanan dua orang resepsionist juga sedang memberikan hormat padaku.Aku melirik dari sudut mataku.
Aku bersama dengan Aera melewati beberapa ruangan sebelum menuju ruang rapat. Dan saat itu langkahku berhenti saat seseorang sedang berbincang dengan orang lain.
Deg
“Rendra”gumamku.
Aku terdiam, saat itu aku melihat pandangan Rendra yang menatapku.Mata kami bertemu.Ia terdiam, sementara aku terpaku.
“Ta, ayo kita rapat” gumam Aera.
Aku memundurkan langkahku, kemudian melanjutkan langkahku.

Ini yang terjadi diantara kita.Egois, tapi untuk hal ini aku berhasil menghindarimu.Lagi, karena kamu yang meminta.