Cast :
Tacita
Rendra
Jessica
Damian
Aira
Airo
Dean
Ratih ( Adik Rendra)
Kakek Abdinegara
Sulis ( Ibu Rendra)
Hendra ( Ayah Rendra)
Mbak Santi (Manager Rendra)
Lian (Teman Tacita)
“Jika
aku boleh memilih aku ingin terlahir dari keluarga yang sederhana, sehingga aku
tidak menyakitimu “
Aku
duduk berdiam diri sambil menatap layar laptopku.Setiap pemberitaan tentang
dirinya aku mengetahuinya.Semua majalah, infotaiment, dan segalanya tertuju
pada dirinya.Aku menyandarkan diriku di kursi kebesaranku, sambil menghela
nafas panjang.
Sudah 5 tahun dan semuanya belum
berubah.
Aku
tersenyum pedih saat melihat senyuman yang terpancar dari sosok yang kini
berada di layar datar laptopku.
Semuanya sudah berlalu, Ta.Semuanya
sudah berakhir.
Meskipun
aku jauh dari dirinya, tapi rasa yang aku miliki selalu terpaut untuknya.Aku
mungkin tidak mampu berkata apapun.Semua hanya penyesalan yang selalu silih
berganti.
Sudah
lima tahun, waktu yang banyak terbuang sia-sia. Tanpa mengerti takdir akan
membawa diriku kemana. Apakah setelahnya semua akan berjalan baik-baik saja?
Sama seperti hatiku, ketika kau memiliki segalanya semua akan menjadi terasa
hampa. Apalagi setelah kau melakukan kesalahan yang menurutmu itu semua
kesalahan adalah sumber darimu.
Move on, Ta. Move on. Lupakan dia!
Dia sudah melupakanmu.Bahkan sudah lama sejak kejadian itu.
Dan
aku adalah orang yang pantas mendapatkan hukuman dari dirinya. Aku akan selalu
menahan seluruhnya saat aku kembali.
Tok! Tok!
Pintu
ruanganku terbuka melihat Aera yang merupakan sekertarisku berdiri di sana. Ia
berjalan mendekatiku.
“Sudah
kuduga kau akan menjadi lemah lagi” helaan nafas keluar dari bibirnya.
Aku
hanya diam, tanpa mengatakan apapun.Aera adalah satu-satunya teman yang bisa
membuatku menjadi diri sendiri.Dia adalah sekertaris sekaligus merangkap
menjadi sahabatku.Aera selalu mengerti diriku. Tidak ada yang lain.
“Eum,
kau benar” aku hanya menganggukkan kepalaku sambil menatapnya.
“Kita
harus pulang, Ta.Pesawat pribadimu sudah menunggu” aku berdiri dan
menganggukkan kepalaku.
Semuanya sudah berbeda.Kini kau hanya
berjalan sendiri tanpa orang yang berdiri disampingmu dan menggenggam tanganmu.
****
Tacita
Anindya Ghassani Abdinegara.
Itulah
namaku, merupakan cucu perempuan tunggal dari keturunan Abdinegara yang sukses
membangun kerajaan dalam dunia bisnis hiburan, kuliner, otomotif, kesehatan dan
teknologi.
Aku
adalah anak ke tiga dari empat bersaudara.Seperti yang aku katakan aku adalah
cucu satu-satunya dari keturunan Abdinegara.Kakek selalu memanjakanku, mungkin
Kakek selalu menginginkan anak perempuan dalam keluarganya.
Ayahku
merupakan anak tunggal dari keluarga Abdinegara.Sehingga Kakek selalu
memimpikan memiliki cucu perempuan.
Kakek
selalu memberikan sesuatu yang aku butuhkan, segalanya selalu ada di rumah
kami.Terkadang aku hanya memutarkan bola mataku saat Kakek dengan overprotective terhadap diriku.
Kemanapun
dan apapun yang aku lakukan aku akan dikawal oleh beberapa orang bodyguard suruhan dari Kakek.
Kakek
memang memiliki kekuasaan yang selalu membuatku susah bernafas. Aku tidak bisa
melakukan apapun yang aku mau, semua sudah disusun oleh dirinya.Termasuk
kehidupanku. Tanpa ia tahu dari sikapnya aku yang terluka.
Aku
memiliki Kakak tertua yang bernama Dean Mahala Ghassavani Abdinegara.Dia adalah
Kakak yang workaholic segala
sesuatunya harus sempurna. Diumurnya yang ke 32 tahun ia belum menikah, karena
terlalu sibuk dengan dunianya sendiri.
Lalu
Airo Heidi Ghassavani Abdinegara adalah kakak keduaku, ia memiliki kepribadian
yang berbeda dari kakak pertamaku. Ia pribadi yang pendiam namun selalu
mengerti diriku. Ia mengetahui yang aku suka dan tidak aku suka. Karena aku dan
dia berbeda usia hanya 2 tahun saja.
Yang
terakhir Damian Tammy Ghassavani Abdinegara adalah adikku.Dia jauh lebih
berbeda dari kedua kakakku, dia memiliki kepribadian yang bebas. Bahkan
sekarang, diusianya yang menginjak usia 24 tahun Damian mampu bebas dari sikap overprotective yang Kakek miliki.
Jika
Kakek sudah menguhubungiku itu artinya Damian membuat suatu kesalahan yang
fatal.Ia akan menuruti segalanya jika aku yang meminta. Mungkin karena ia
menganggap aku sebagai Kakak sekaligus ibu untuknya. Eum, Kami berempat hanya
memiliki Kakek sebagai orang tua kami.
Ayahku
meninggal karena kecelakaan 10 tahun yang lalu, sementara ibu kami meninggal
pasca melahirkan Damian.Kami berempat selalu bahu membahu untuk memberikan
curahan kasih sayang pada adik kami.
Sekarang
umurku sudah menginjak 27 tahun, aku selalu mengurus kebutuhan adikku yang
terkadang menurutku selalu tidak wajar.Aku dan Damian tinggal bersama.Aku
menjadi Kakak yang baik untuk adikku satu-satunya itu.Aku selalu mengenal
karakter Damian.Ia adalah tipe orang yang tidak mau bertele-tele dalam segala
hal. Namun, terkadang permintaannya membuatku sebagai seorang kakak perempuan
menjadi frustasi
Bayangkan
ketika teman-temannya mengajak dirinya berpesta sampai tengah malam dan ia
tidak pulang ke rumah. Aku menunggunya hingga menjelang pagi. Ketika ia pulang
aku menangis di hadapannya. Aku tidak mau adikku bergaul dengan bebas di
London.\
Bukan
aku tidak mau Damian memiliki teman banyak.Tapi aku sebagai kakak harus
mengontrol adikku.Dia adalah adikku satu-satunya yang harus aku jaga.
Sejak
saat itu Damian selalu menurutiku, sampai terkadang ia mengatakan jika aku
adalah orang kuno. Tapi Damian selalu menuruti permintaanku dan menghormatiku
sebagai seorang Kakak.
Kedua
Kakakku terkadang sesekali menjenguk kami.Jika sudah kami berkumpul termasuk
dengan Kakek, dunia serasa milik kami berlima.Meskipun kami berempat sering
berdebat dan membuat Kakek pusing tapi Aku selalu menyayangi ketiga saudaraku.
Aku
selalu tersenyum, ketika Kakek memberiku semua perintah untuk mengurus Damian
dan kedua Kakakku. Karena mengurus mereka bertiga lebih susah dan itu butuh
perdebatan yang hebat. Aku bisa saja membantahnya tapi semua aku urungkan
niatku. Karena aku tahu, ia pasti juga sangat lelah mengurus kami.
Hal itu menyakitkan, sungguh.Tapi aku
menyimpannya. Agar kau selalu bahagia!
****
Tepatnya
hari ini aku kembali menginjakkan kakiku di Indonesia. Setelah 5 Tahun berlalu,
dan aku akan kembali mengingat semua kenangan yang pernah terjadi.
Semuanya
terasa menyakitkan ketika aku mengingat hal itu.Aku juga masih bermimpi
buruk.Mimpi yang tidak bisa aku hapus.Mimpi yang membuat aku semakin merasa
bersalah.Mimpi yang seakan menelankan kebahagiaanku.
Benar.Mungkin
aku selamanya tidak bisa bahagia.Semuanya berawal dari diriku.Seharusnya aku
bisa mempertahankannya.
“Kita
sudah sampai” Aera memegang bahuku.Aku mengangguk dan bangkit dari dudukku.
Beberapa
bodyguard menunggu diluar, mereka
memberikan hormat kepadaku.Aku hanya tersenyum kecil, menyembunyikan
keraguaanku.
Saat
seseorang menggenggam tanganku.Aku menoleh, aku melihat adikku yang tersenyum
padaku.Ia menganggukkan kepalanya. Aku kembali menemukan percaya diriku.Aku
melangkah menuju mobil yang sudah disediakan.
“Jakarta.”
Saat itu aku takut, takut akan bertemu
dengamu kembali.
****
Aku
melihat dimana-mana dirinya.Seluruh iklan yang terpampang pada saat mobil yang
aku tumpangi berjalan.Rasanya sungguh sesak, aku ingin berteriak agar
perasaanku tenang.Tidak ada yang berubah dari Jakarta masih tetap yang sama.
Mungkin yang bedanya adalah sekarang sudah tersusun dengan rapi.
Aku
kembali menatap iklan yang ada di dekat lampu merah. Aku memaikan jariku saat
wajah itu ada di sana. Kamu tidak boleh
mengingat dia lagi, Ta.Batinku yang terus saja memberontak.Mungkin benar
aku tidak seratus persen bisa melupakannya.
“Kau
baik-baik saja, Kak ?”Damian menggenggam tanganku.Aku hanya mengangguk.
“Tidak
apa-apa jika kau ingin menangis.Aku tahu kau merindukannya, ehm” aku hanya
menyandarkan kepalaku ke kursi penumpang.
“Seharusnya
kau sudah melupakannya”lirih Damian.
“Aku
merasa bersalah”lirihku.“Aku sudah membohonginya” lanjutku.
“Itu
bukan salahmu, kau tahu ada pepatah yang mengatakan manusia itu harus berbuat
salah terlebih dahulu untuk bisa menyadari kesalahannya” Damian mulai
menggenggam tanganku.
“Jika
aku tidak pergi membawaku lima tahun yang lalu pasti kau semakin terluka”
Damian memelukku dari samping.“Aku menyayangimu, aku tidak mau kau merasa
tersakiti.Aku mohon” Aku mengelus tangan Damian yang sudah berada di
pinggangku.Aku hanya menganggukkan kepalaku.
“Apa
aku bisa bertahan, Dami?” tanyaku pada adikku.
“Tentu
saja, buktinya kau bisa melewati masa-masa menyulitkan itu” ujarnya yang masih
memelukku.
Ya, semua tidak akan berhasil jika tidak
berusaha
****
Mereka
berdiri teratur saat mobil kami sampai di semua gedung yang menjulang
tinggi.Ada rapat dengan beberapa pemegang saham yang harus aku selesaikan hari
ini sebelum aku pulang ke rumah.Seharusnya aku beristirahat, aku baru saja
melakukan perjalanan yang cukup jauh. Namun, pekerjaan ini harus aku selesaikan
mengingat Kak Dean tidak bisa datang ke perusahaan yang ada di Indonesia.
Karena ia terlalu sibuk mengurus perusahaan yang ada di Singapura. Akhirnya, ia
menyuruhku untuk menyelesaikannya.
Seharusnya
Perusahaan hiburan ini dipegang oleh Damian, tapi bocah itu tidak mau karena ia
mengatakan tidak memiliki bakan mengurusi para artis dan sebagainya. Itu hanya
alasan dirinya.
Yah,
Kami berempat sudah memiliki bidang masing masing di Haxle Group yang merupakan perusahaan besar. Kak Dean memegang
perusahaan hiburan, Kak Airo memegang perusahaan Teknologi, Damian memegang
perusahaan Kuliner sementara aku memegang Rumah sakit Kasih. Tapi terkadang saat kami tidak bisa untuk menangani, kami
akan melakukan diskusi kecil sehingga mendapatkan solusi yang tepat.
“Kak,
aku pulang dulu yah?Nanti aku jemput.Semangat!” seru Damian membuatku memutar
bola mata.
“Seharusnya
kau yang mengurus hal ini”gerutuku.
“Hahahahahah….”
Dia hanya tertawa melihatku menggerutu.
Aku
keluar dari dalam mobil. Pandanganku lurus ke depan, aku berjalan melewati para
pengawal serta beberapa pemegang saham yang memberikanku hormat. Dan saat ini
aku berdiri di Kantor Kak Dean.Haxle
Grup merupakan perusahaan yang bergerak di bidang Advertising dan juga sebuah agency
yang menaungi aktris dan juga aktor.
Gedung
yang minimalis, semua terbuat dari kaca. Ada semua taman di dalam gedung itu.
Di ujung sebelah kanan dua orang resepsionist
juga sedang memberikan hormat padaku.Aku melirik dari sudut mataku.
Aku
bersama dengan Aera melewati beberapa ruangan sebelum menuju ruang rapat. Dan
saat itu langkahku berhenti saat seseorang sedang berbincang dengan orang lain.
Deg
“Rendra”gumamku.
Aku
terdiam, saat itu aku melihat pandangan Rendra yang menatapku.Mata kami
bertemu.Ia terdiam, sementara aku terpaku.
“Ta,
ayo kita rapat” gumam Aera.
Aku
memundurkan langkahku, kemudian melanjutkan langkahku.
Ini yang terjadi diantara kita.Egois,
tapi untuk hal ini aku berhasil menghindarimu.Lagi, karena kamu yang meminta.

No comments:
Post a Comment